Kroya

Ruangan yang hanya berukuran 3X4 meter dengan sorotan lampu-lampu kecil itu masih berisikan dokter dan pasiennya.

“Lepaskan dulu tanganku, lepaskan tanganku……………..!!!”

Tampak marah dan hampir mencekik dokter itu.

“Ya..ya pasti, tapi kau harus berjanji kita bersahabat oke..!”

Dengan pandangan matanya yang kosong dan senyman yang lebar itu membuat sang dokter merasa yakin untuk melepas tali yang mengikat kedua tangannya.

“Hai… kau pernah minum ronde…? ..em..di…”

“Pernah, ya rasanya enak sekali bukan?”

“Tidak aku tidak merasakan seperti itu.”

Raut wajahnya yang terlihat bahagia lalu mimiknya berubah seperti mengingat sesuatu. Dengan gerakan matanya yang seakan-akan mencari ingatan-ingatan baru,dia mulai berkata lagi.

“Tanggal………………”

Kata-katanya terputus karena dia masih terlihat mengingat-ingat sesuatu.

“Kau tau hari Valentine?”

“Tanggal 14 Februari..?”

“ Ya..ya tanggal 14..ya 14.. ha….ha…hahaha…haha…”

Dia masih terlihat bahagia dengan tawanya yang lepas, lalu perlahan ia mulai diam.Dengan tingkahnya menggigit jemari , raut wajahnya yang memerah dan senyum lebarnya seakan memarkan rasa malu.

“Kenapa hari valentine…?”

Masih terlihat malu, dia hanya menggelengkan kepala.

“Kau diberi sesuatu oleh pacarmu?”

“Teman.”

“ yah teman,apa?”

“Faubel.”

Mendengar nama itu sang dokter makin tertarik memancingnya.

“Faubel..?teman lelakimu bernama Faubel?”

Wanita itu mulai bingung.

“Dia memberimu apa?bunga?coklat?”

“Hah…..haaaah………….haaah.”

Jeritnya sambil menangis dan meremas-remas rambut panjangnya yang pirang.

“Ba..baik..baik..”

Dokter itu mencoba menenangkannya dan wanita itu pun diam. Sunyi senyap keadaan setelah itu, tidak lama sekitar tiga menit,wanita itu berlari untuk menggemgam tangan dokter dan menatapnya.

“A…aku tidak gila kan….?”

Sang dokter hanya mengangguk.

“A..aku tidak gila kan….?

Masih dengan jawaban hanya mengangguk.

Hingga sudah banyak pertanyaan sama yang terlontar dari wanita itu dan banyak anggukan yang dilakukan oleh dokter itu.

“Jawab…!! Kalau aku bukan pembunuh….!!!!”

Dengan nada tinggi tampak marah sambil meraih kerah dileher dokter itu,perlahan dokter itu pun melepas kedua tanganwanita itu dari kerahnya.

“Ya…kamu memang bukan pembunuh, lalu dimana Faubel sekarang?”

“Faubel..?…..Faubel..?….Faubel dimana…?…………….Faubel mati.”

“Dia mati karena tusukan?”

“Hector.”

Sang dokter mulai bingung, karena wanita itu mulai menyebut nama baru dalam percakapannya.

“Faubel mati masuk jurang.” Jawab wanita itu

Masih dengan gerakan matanya yang mencoba mengingat sebuah peristiwa.

“Masuk jurang?”

“Dokter itu nampak membuka lembaran kertas data hasil otopsi mayat Faubel.Sesekali ia mengerutkan kening karena ia tak menemukan luka benturan atau goresan apapun.Sambil tersenyum dokter itu mulai melepas kaca matanya.

“Faubel mati karena tusukan,bukan masuk jurang.”

“Bukan…bukan Faubel yang kena tusuk,dia Hector.”

“Hector..?Siapa dia?”

Terlihat wanita itu mulai meremas-remas bajunya dengan dua tangannya itu.Dan nampaknya tetesan air bening itu pun sudah banyak yang mengalir dari matanya yang biru.

“Hector Faubel mati karena tusukan.”

“Siapa…?Hector….atau Faubel..?”

Wanita itu mulai bingung,pandangan matanya yang kosong itu mulai tertuju pada sang dokter. Dengan menghelai nafas panjang,dokter itu mulai bertanya lagi.

“Hector…Faubel mati karena tusukan?Lalu siapa yang mati masuk jurang?”

“Faubel.”

Lagi-lagi dokter itu dibuat bingung oleh jawaban-jawaban itu.

“Siapa Faubel?”

“Dia pacarku,Hendrik.”

“Hendrik?”

Dan ini yang kedua kalinya wanita itu mulai menyebut nama baru.

“Baiklah, kalau begitu dimana Hendrik?”

“Mati.”

“Kenapa?”

“Dia masuk jurang.”

Tampak lelah dengan menyandarkan punggungnya di badan kursi itu,dokter pun megambil tiga helai kertas dari tasnya.Lalu dengan pena ditangan kanannya ia mulai menulis nama-nama yang pernah terucap dari mulut wanita itu.Mulai dari lembaran ke-1 ia tulis kata Faubel,ke-2 Hector,ke-3 Hendrik. Rupanya wanita itu masih asyik bermain helai demi helai rambut-rambut pirangnya yang ikal,dengan mengayun-ayunkan kakinya sambil berbisik nyanyian-nyanyian lama.

“Kau lihat tiga lembar kertas dimeja ini? Bacalah!!”

“Faubel…Hector….Hendrik.”

“Ya bagus…….lalu apa ini?”

Sambil membalik-balik posisi lembaran kertas itu.

“Hendrik….Faubel…..Hector.”

Sampai berulang-ulang kali dokter itu merubah posisi lembaran kertas dan wanita itu  selalu berhasil membacanya. Hingga sang dokter pun merasa yakin untuk pertanyaan berikutnya.

“Sekarang tunjukan padaku,siapa nama pacarmu?”

Wanita itu menunjuk kertas bertuliskan Hendrik lalu Faubel.

“Lalu siapa yang mati di tusuk?”

Jemarinya memilih kata Hector dan Faubel.

“Siapa yang masuk jurang?”

“Hendrik Faubel.” Jawab wanita itu.

Sudah hampir tiga jam dokter mencari jawaban dari wanita itu namun ia nampak masih bingung.Tiba-tiba dokter itu pun seperti mendapat petunjuk dengan tingkahnya yang merubah posisi duduknya.

“Pacarmu Hendrik Faubel?… mati masuk jurang,dan temanmu Hector Faubel mati ditusuk?”

Wanita itu diam.

“Kenapa pacarmu masuk jurang?”

Wanita itu tetap diam tak berbicara sepatah kata pun.Walau pertanyaan itu sudah beberapa kali dilontarkan. Tampaknya wanita itu mulai bingung,seperti tidak mengingat  apapun. Namun dokter itu masih sabar menunggu  dan banyak menanyakan sesuatu untuk memancing ingatannya. Tak sengaja mata dokter itu menuju sehelai kertas disamping kirinya hingga dia menemukan nama tempat terjadinya peristiwa itu.

“Kau tau Kroya….?”

Wanita itu nampak tersentak kaget dengan matanya yang mulai bersinar kembali karena sayup-sayup air mata mengering.

“Kroya….? i..i….tu disitu mereka mati.”

“Di desa Kroya…?”

“Ya… saat kita berlibur tiga tahun yang lalu.”

Diatas tangisnya dengan perlahan wanita itu mulai bercerita.

“Dia didorong oleh saudaranya Hector Faubel,karena….,tidak aku tidak tau masalah mereka.”

“Lalu kau membunuh Hector ?”

“Sebelum Hendrik jatuh ke jurang,dengan tangannya dia menusukkan pisau pada Hector.”

“Kenapa……?”

“Karna aku.”

“Kenapa kamu?”

Lalu wanita itu diam sejanak menahan isak tangisnya.

“Karena aku yang memberikan pisau itu dan aku yang mengendalikan tangannya hingga Hector saudarnya terbunuh, ta…ta..tapi sebelum ia mati, Hector mendorongnya  ke jurang.”

“Kenapa kau lakukan itu?”

“Aku membenci Hector, karena dalam pertengkaran mereka Hector nampak ingin membuuh Hendrik.”

“Dari mana pisau itu?”

“Pisau itu..pisau itu milik Hector yang aku ambil dari saku celananya.”

Jesekali rasa itu terlihat dari wajahnya yang penuh sesal dan Wanita itu menceritakannya dengan ketakutan. tingkahnya yang seolah ingin menyiksa diri. Sang dokter mulai tersenyum setelah mendapatkan jawaban dari wanita itu.

“Rupanya itu kata kuncinya,hingga dia bisa ingat dan bercerita tentang peristiwa itu.”

Bisik sang dokter sambil menggoyangkan pena dengan jemarinya hingga membentuk sebuah kata Kroya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s